100 Drone Perkuat Bisnis Kargo Garuda Indonesia



PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk GIAA mulai serius untuk menggarap pasar kargo. Bahkan, perusahaan plat merah tersebut akan menggunakan drone untuk kebutuhan antar jemput barang.

Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia Muhammad Iqbal menjelaskan, perseroannya telah membeli 100 drone dengan total investasi cukup besar. Rata-rata harga pesawat nirawak per-unitnya, kata dia, mencapai 5 juta dolar Amerika Serikat (AS).

“Jadi kita akan beli 100 drone, untuk awal akan dikirim dua dulu,” kata dia di acara diskusi, di Kawasan Wahid Hasyim, Selasa (22/10/2019).

Ia mengatakan, akan mulai lakukan penerbangan uji coba untuk pengiriman barang di beberapa daerah yang wilayahnya yang potensial untuk dikembangkan. Salah satunya, jelas Iqbal, di Aceh sesuai ketentuan yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan.

 “Mungkin berlangsung selama 3 bulan Ujicoba kedua mixed antara drone dengan pesawat konvensional. Ke depan seluruh angkutan udara menuju trend ke arah Unmanned Aerial Vehicle [pesawat tanpa awak]. Boeing 777 saja sedang pembuatan UAV,” jelasnya.

 Ia menjelaskan, pihaknya serius untuk menggarap pasar kargo yaitu karena pertumbuhan pasar logistik per tahun mencapai 11 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bisnis penerbangan di beberapa sektor lainnya. Maka dari itu pihaknya mengantisipasi adanya lonjakan pertumbuhan dengan memanfaatkan keunggulan drone.

“Pertumbuhannya 11 persen per tahun jauh lebih tinggi dibanding penumpang. Ini perlu antisiapasi sekarang pesawat penumpang dititipi kargo. Sementara penumpag cuma tumbuh 5 persen, kargo 11 persen,” paparnya.

Dari 100 unit pesawat yang dipesan tahun ini, delapan drone siap dioperasikan di tahun 2020. Di tahun berikutnya, penggunaan drone untuk kargo tersebut akan bertambah lima untuk medukung mobilitas logistik di dalam negeri.

“Makanya pelru ada penambahan strateginya. Kalau jarak jauh pakai freighter, tahun 2020 akan proyeksikan 8 unit, tiap tahun nambah 5 unit. Pesawat freighter ini harus disupport feeder, salah satunya UAV ini, di daerah-daerah remot bisa jadi supporting unit pesawat Garuda ke depannya. Misal di Maluku Tenggara kaya ikan SulTeng, Garuda concern untuk itu,” paparnya.