Garuda Indonesia optimis semester II-2019 jauh lebih baik

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) optimis industri penerbangan di semester II-2019 bakal lebih baik dibanding semester I-2019. Hal itu lantaran di paruh kedua tahun tergolong sebagai high season industri penerbangan.

Sampai semester I-2019, GIAA mencatat pendapatan sebesar US$ 1,85 miliar atau tumbuh dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,7 miliar. Adapun laba bersih sebesar US$ 24,11 juta atau lebih baik ketimbang periode yang sama tahun lalu di mana GIAA mencatat rugi US$ 116,85 juta.

Vice President Corporate Secretary GIAA Ikhsan Rosan mengatakan untuk memaksimalkan potensi high season, pihaknya akan memaksimalkan penggunaan pesawat berbadan lebar. “Sebagian rute tujuan Bali, Surabaya, dan Singapura akan kita gunakan wide body,” katanya dikutip dari Kontan.co.id, Minggu (8/9).

Jika biasanya di beberapa rute itu GIAA mengandalkan Boeing 737 NG, maka disaat permintaan tinggi, GIAA akan mengganti dengan Airbus 330-200.

Ikhsan mengatakan, GIAA masih optimis bisa mengantongi laba bersih Rp 1 triliun. Sebelumnya di semester I-2019, GIAA mencatat laba bersih sebesar US$ 24,11 juta atau setara sekitar Rp 336 miliar. “Semester I yang biasanya low season kita bisa mencatat laba, jadi semester II-2019 bisa jauh lebih baik,” tambahnya.

Salah satu strategi GIAA yang lain adalah dengan memperhatikan siklus supply and demand sebaik mungkin. Jadi tidak hanya penambahan frekuensi penerbangan, tetapi di waktu yang sama, rute yang tidak menguntungkan frekuensi penerbangannya akan dikurangi.

Selain bakal meningkatkan tingkat keterisian kursi karena jumlah kursi yang tersedia lebih sesuai dengan permintaan, hal itu juga bisa menekan biaya bahan bakar. “Jadi kalau permintaannya hanya 100 seat per hari, ya kita sediakan satu penerbangan saja per hari, enggak perlu dua penerbangan, kan,” ujar Ikhsan.