|
VISI Meningkatkan profesionalisme penerbang Garuda Indonesia.
MISI Mengangkat harkat dan martabat profesi penerbang serta memasyarakatkan profesi penerbang. SEKILAS GARUDA INDONESIA Berdasarkan hasil Konferensi Meje Bundar (KMB) pada tahun 1949, Pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah RIS. KMB berisi antara lain penyerahan semua kekayaan pemerintah Hindia Belanda kepada Pemerintah RIS termasuk penyerahan perusahaan penerbangan Belanda KLM / Inter Insulair Bedrijf kepada RIS. Penerbangan pertama pesawatyang telah resmi menjadi milik Indonesia dimulai pada tanggal 28 Desember 1949. Pesawat DC-3 dengan logo Garuda Indonesian Airways terbang untuk pertama kalinya dalam sejarah membawa Presiden Soekarno dan rombongan dari Maguwo, Yogyakarta (sekarang bandara Adisucipto) ke Kemayoran, Jakarta untuk kembali memasuki Ibu Kota Negara. Nama Garuda itu sendiri diambil oleh Presiden Soekarno dari kutipan sebuah sajak berbahasa Belanda gubahan pujangga terkenal Noto Soeroto, “Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vluegels uitslaat hoog boven uw eilanden” (Aku adalah, burung milik Wishnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu). Dalam tahun 1989 nama Garuda Indonesian Airways diubah menjadi Garuda Indonesia. . Pada perkembangan selanjutnya, Garuda Indonesia terus mengangkasa ke seluruh penjuru dunia. SEJARAH SINGKAT PILOT GARUDA Pada tahun-tahun awal maskapai ini beroperasi, pesawat garuda diterbangkan oleh pilot-pilot KLM karena pada waktu itu belum ada tenaga pilot dan teknisi bangsa Indonesia. Mulai tahun 1951, Garuda Indonesian Aieways merekrut calon penerbang anak bangsa untuk mengikuti pendidikan penerbang. Tepatnya pada tanggal 15 Januari 1951 Kementrian Perhubungan Bagian Penerbangan Sipil dengan pengumuman No: 492.017/3.27.51 mengajak para pemuda untuk dididik menjadi penerbang sipil. Setelah melewati seleksi, para calon penerbang diberangkatkan ke sekolah penerbang di Inggris dan Belanda. Pada tahun 1955 dibuka sekolah penerbang pertama di Tanah Air yang bernama Akademi Penerbangan Indonesia (API) yang berlokasi di Curug, Banten. Pada tahun 1960, terjadi pergolakan Trikora untuk merebut kembali Irian Barat. Pada bulan Desember 1960 dikirim saru kontingen Garuda untuk mengambil-alih perusahaan penerbangan Belanda di Irian Barat yang bernama Kroonduif. Kontingen Garuda ini dipimpin oleh Capt. R.M.Syafei Djajakusuma. Dalam persiapan penyerangan ke Irian Barat beberapa pesawat Garuda beserta awak pesawatnya diperbantukan kepada AURI. Salah satu pesawat Garuda, CONVAIR 240/340 menjadi pesawat komando yang dipakai oleh Komandan Operasi Mandala. Selain untuk merebut kembali Irian Barat, para penerbang Garuda terlibat aktif dalam peristiwa-peristiwa bersejarah dalam tahun-tahun berikutnya. Menurut keputusan pemerintah, penerbang Garuda diperbantukan kepada AURI dalam rangka menumpas pemberontakan PRRI / Permesta. Penerbang-penerbang tersebut menjadi perwira-perwira dari WING 011 AURI. Perjuangan para penerbang Garuda terus berlanjut di antaranya dalam memperjuangkan Integrasi Timor Timur. Sejarah telah mencatat bahwa partisipasi penerbang-penerbang Garuda sebagai kekuatan udara Republik Indonesia telah dijalani dengan gemilang, ketika Negara menghadapi keadaan bahaya berturut-turut. Penerbang-penerbang Garuda tidak hanya dituntut berperan secara professional dalam tugasnya menerbangkan pesawat komersil, tetapi juga merupakan kekuatan cadangan udara yang mendukung potensi kekuatan udara Negara Republik Indonesia. Oleh karena peranan strategis, baik untuk kepentingan pembangunan maupun bidang Hankam, maka berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Th. 1982 dan sesuai dengan Keputusan kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomoe Kep/27/IV/1986, Garuda Indonesia merupakan kekuatan cadangan udara nasional di bawah pembinaan TNI AU. LATAR BELAKANG Pada tahun 1955 dibentuk perkumpulan penerbang Garuda dengan nama Ikatan Penerbang Sipil Indonesia (IPSINDO) untuk memperjuangkan nasib karyawan Garuda umumnya dan penerbang khususnya. Akibat perselisihan perburuhan, sekitar akhir tahun 1965, pada era Direktur Utama Garuda Wiweko S., IPSINDO membubarkan diri. Setelah IPSINDO membubarkan diri, para penerbang tidak memiliki tempat bernaung. Pada bulan Desember 1984, berdiri Forum Komunikasi Antar-Penerbang Garuda Indonesia (FKAP-GA), dengan ketuanya Capt. H.J.J. Sumolang. Melihat peran positif FKAP-GA, sekitar tahun 1988 Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin memanggil para pengurusnya dan mengusulkan agar dapat dibentuk organisasi pilot berskala nasional. Menindaklanjuti pertemuan tersebut, berkat upaya keras yang dimotori oleh para penerbang Garuda, dibentik Persatuan Penerbang Sipil Indonesia (PERSEPSI) yang beranggotakan seluruh pilot Indonesia, dengan ketuanya Capt. Krismanto. Selanjutnya, PERSEPSI, berubah nama menjadi Federasi Pilot Indonesia (FPI) Sementara itu, kegiatan FKAP-GA terus berlanjut sebagai organisasi yang khusus beranggotakan pilot Garuda. Forum Komunikasi ini pada tanggal 15 Desember 1999 berubah menjadi Asosiasi Pilot Garuda, yang memperjuangkat harkat dan martabat para penerbang Garuda Indonesia. Untuk menjalankan mandatnya dalam forum Internasional, FKAP-GA telah menjadi anggota International Federation of Air Line Pilot Association (IFALPA), induk organisasi penerbang internasional. Keanggotaan ini dimulai tahun 1993 pada saat berlangsungnya konferensi IFALPA di Rio de Janeiro, Brazil. Ketika itu, FKAP-GA diketuai oleh Capt. Amir Hamzah. TUJUAN Asosiasi Pilot Garuda (APG) merupakan organisasi non-profit. Sumber dana diperoleh dari iuran anggota. APG didirikan dengan tujuan meningkatkan kualitas profesionalisme dan harkat martabat anggotanya pada tingkat yang setara dengan standar internasional. APG berfungsi untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi serta kemampuan professional anggotanya dan aktif dalam memberikan masukan kepada perusahaan. APG berperan untuk bersama-sama memajukan perusahaan serta meningkatkan kualitas kehidupan anggotanya. KEGIATAN INTERNAL 1. Mengangkat anggota-anggota kehormatan yang memiliki kompetensi untuk mendukung visi dan misi APG, salah satunya Menteri Perhubungan RI Hatta Radjasa, yang dikukuhkan sebagai anggota kehormatan pada tanggal 7 Juli 2005 2. Menyelenggarakan training computer. 3. Memfasilitasi dan mensponsori kegiatan olahraga: • Kompetisi Karate • Adventure Offroad • Menembak • Bulu Tangkis • Hiking 4. Acara Rutin Tahunan Wisuda Purna Bakti Dirgantara: Perpisahan dengan Para Pensiunan Penerbang Garuda Indonesia dan Penyerahan Lencana Purnabakti Dirgantara. 5. Penghormatan terakhir kepada penerbang yang gugur baik karena kecelakaan maupun sakit. KEGIATAN EKSTERNAL
1. Menyelenggarakan berbagai seminar, antara lain: • Seminar tentang Investigasi Kecelakaan, tanggal 11 September 2000 • Seminar Fasilitas Kesehatan Garuda – APG, tanggal 29 Mei 2004 • Seminar Komunikasi Penerbang dengan ATC, tanggal 7 Juli 2005 2. Bakti sosial: • Membantu korban tanah lonsor di Papandayan. • Membantu korban gempa bumi di Nabire. • Membantu korban Tsunami di Aceh. • Membantu korban gempa bumi di Nias RENCANA KE DEPAN
1. APG semakin memperkuat eksistensinya di mata masyarakat luas, khususnya di dunia penerbangan. 2. Berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan operasional serta mengembangkan pengetahuan di dunia penerbangan melalui peningkatan kerja sama dengan instasi-instasi terkait. |