Haru, Bangga dan Gembira 23 Tahun Bersama Boeing 747-400

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menghentikan operasi tiga pesawat Boeing 747-400 setelah 23 tahun melayani penumpang. Sejumlah pilot pun memberikan penghormatan terakhir.

Kapten Rudy Agustiansyah merupakan salah satu pilot Boeing 747-400. Dia menuturkan perasaan para pilot bergejolak, campur aduk antara sedih, bangga, dan gembira.

“Sedih karena hari ini pesawat yang selama ini kami terbangkan harus beristirahat karena sudah tua,” katanya di Tangerang, Senin, 9 Oktober 2017. Pesawat yang sudah tua itu dinilai tak lagi efisien dan berbiaya tinggi.

Namun di sisi lain para pilot bangga pernah menerbangkan pesawat terbesar di eranya. Seperti diberitakan tempo, Boeing 747-400 buatan Amerika ini bisa menampung 428 penumpang. Bagian dalamnya terdiri atas 42 kursi kelas eksekutif dan 386 kursi kelas ekonomi dengan AVOD yang hanya tersedia di kelas eksekutif. Pesawat ini dilengkapi empat mesin jet sehingga dijuluki Jumbo Jet. 

Meski besar, bentuk dan penampilan pesawat ini anggun. Pesawat ini memiliki winglet yang memberikan efek sayap melebar, tapi tanpa melebihi slot bandara standar. Pesawat ini pun menyandang sebutan Queen of Sky.

Rudy menuturkan para pilot mengaku senang pesawat tersebut terbang untuk waktu lama dengan aman, tanpa kecelakaan fatal. Sepanjang sejarahnya, pesawat ini pernah membawa orang-orang penting. Pada 2000, Boeing 747-400 pernah membawa Presiden Abdurrahman Wahid berkunjung ke Amerika.

Pada 2010, Rudy menuturkan pesawat yang sama juga digunakan untuk menjemput jenazah Ainun Habibie ke Munich, Jerman. Pesawat terbang nonstop sekitar 13 jam. “Saya waktu itu ikut terlibat pemulangan jenazah Ainun Habibie, terbang 27 jam pulang pergi dengan hanya istirahat sekitar dua jam di Munich,” ujarnya.

Kini, Boeing 747-400 akan dijual. Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury masih memproses penjualannya dan enggan menyebut harga jualnya. (Q)